Kamis, 22 April 2010

WAWASAN NUSANTARA

DEFINISI WAWASAN NUSANTARA

Latar belakang dan proses terbentuknya wawasan nusantara setiap bangsa

Salah satu persyaratan mutlak harus dimiliki oleh sebuah negara adalah wilayah kedaulatan, di samping rakyat dan pemerintahan yang diakui. Konsep dasar wilayah negara kepulauan telah diletakkan melalui Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Deklarasi tersebut memiliki nilai sangat strategis bagi bangsa Indonesia, karena telah melahirkan konsep Wawasan Nusantara yang menyatukan wilayah Indonesia. Laut Nusantara bukan lagi sebagai pemisah, akan tetapi sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang disikapi sebagai wilayah kedaulatan mutlak Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ada bangsa yang secara eksplisit mempunyai cara bagaimana ia memandang tanah airnya beserta lingkungannya. Cara pandang itu biasa dinamakan wawasan nasional. Sebagai contoh, Inggris dengan pandangan nasionalnya berbunyi: "Britain rules the waves". Ini berarti tanah Inggris bukan hanya sebatas pulaunya, tetapi juga lautnya.

Tetapi cukup banyak juga negara yang tidak mempunyai wawasan, seperti: Thailand, Perancis, Myanmar dan sebagainya. Indonesia wawasan nasionalnya adalah wawasan nusantara yang disingkat Wanus. Wanus ialah cara pandang bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang sarwa nusantara dan penekanannya dalam mengekspresikan diri sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah lingkungannya yang sarwa nusantara itu. Unsur-unsur dasar wasantara itu ialah: wadah (contour atau organisasi), isi, dan tata laku. Dari wadah dan isi wasantara itu, tampak adanya bidang-bidang usaha untuk mencapai kesatuan dan keserasian dalam bidang-bidang:

  • Satu kesatuan wilayah
  • Satu kesatuan bangsa
  • Satu kesatuan budaya
  • Satu kesatuan ekonomi
  • Satu kesatuan hankam.

Jelaslah disini bahwa Wanus adalah pengejawantahan falsafah Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara Republik Indonesia. Kelengkapan dan keutuhan pelaksanaan Wanus akan terwujud dalam terselenggaranya ketahanan nasional Indonesia yang senantiasa harus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan zaman. Ketahanan nasional itu akan dapat meningkat jika ada pembangunan yang meningkat, dalam "koridor" Wanus.

Konsep geopolitik dan geostrategi

Bila diperhatikan lebih jauh kepulauan Indonesia yang duapertiga wilayahnya adalah laut membentang ke utara dengan pusatnya di pulau Jawa membentuk gambaran kipas. Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik Indonesia dituangkan dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. , sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Dengan mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi besar (grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa bagian terluar wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman.

Wawasan nusantara sebagai geopolitik Indonesia

Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Laut yang menghubungkan dan mempersatukan pulau-pulau yang tersebar di seantero khatulistiwa. Sedangkan Wawasan Nusantara adalah konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan, yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam. Wawasan Nusantara sebagai konsepsi politik dan kenegaraan yang merupakan manifestasi pemikiran politik bangsa Indonesia telah ditegaskan dalam GBHN dengan Tap. MPR No.IV tahun 1973. Penetapan ini merupakan tahapan akhir perkembangan konsepsi negara kepulauan yang telah diperjuangkan sejak Dekrarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957.

Pengertian dan hakekat wawasan nusantara

Wawasan Nusantara adalah cara pandang Bangsa Indonesia terhadap rakyat, bangsa dan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi darat, laut dan udara di atasnya sebagai satu kesatuan Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pertahanan Keamanan.

Bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Artikel ini adalah tentang Pulau dan Provinsi Bali. Untuk kegunaan lainnya, lihat Bali (disambiguasi).

Bali

"Bali Dwipa Jaya"
(Bahasa Kawi: "Pulau Bali Jaya")

Locator bali final.png
Peta lokasi Bali

Koordinat

9º 0' - 7º 50' LS
114º 0' - 116º 0' BT

Dasar hukum

{{{dasar hukum}}}

Tanggal penting

14 Agustus 1959 (hari jadi)

Ibu kota

Denpasar (dahulu Singaraja)

Gubernur

Komjen Pol (Purn) I Made Mangku Pastika (2008-2013)

Luas

5.634 km²

Penduduk

3.593.208 jiwa (2008)[1]

Kepadatan

638

Kabupaten

8

Kota

1

Kecamatan

{{{kecamatan}}}

Kelurahan/Desa

{{{kelurahan}}}

Suku

Bali (89%), Jawa (7%), Baliaga (1%), Madura (1%)[2]

Agama

Hindu (92,3%), Islam (5,7%), Lainnya (2%)

Bahasa

Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Bahasa Sasak, Bahasa Madura, dll.

Zona waktu

WITA

Lagu daerah

Bali Jagaddhita

Rumah tradisional

{{{rumah}}}

Senjata tradisional

{{{senjata}}}

Singkatan

{{{singkatan}}}


Referensi: {{{ref}}}


Situs web resmi: www.baliprov.go.id

(?)

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia, dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan, dan Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

Daftar isi

[sembunyikan]

Geografi

Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.

Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai.

Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha, dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan, Buyan, Tamblingan dan Danau Batur.

Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan.

Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Republik Indonesia. Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 9 kabupaten/kota, 55 kecamatan dan 701 desa/kelurahan.

Batas wilayah

Utara

Laut Bali

Selatan

Samudera Indonesia

Barat

Provinsi Jawa Timur

Timur

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Sejarah

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Gunung_Kawi_Rice_Terrace_Tampaksiring_1.jpg/200px-Gunung_Kawi_Rice_Terrace_Tampaksiring_1.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Sawah di sekitar puri Gunung Kawi, Tampaksiring, Bali.

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Bali

Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.[3] Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau.[4] Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM.[rujukan?]

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (12931500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.

Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.

Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.

Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.

Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[5]

Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.

Demografi

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/36/Bali_panorama.jpg/250px-Bali_panorama.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Lahan sawah di Bali

Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu. Agama lainnya adalah Buddha, Islam, Protestan, dan Katolik.

Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali, dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata.

Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali, dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Meskipun terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomunikasi. Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama Hindu Dharma dan keanggotan klan (istilah Bali: soroh, gotra); meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang.

Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak masyarakat Bali, yang dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada pusat-pusat informasi wisatawan di Bali, seringkali juga memahami beberapa bahasa asing dengan kompetensi yang cukup memadai.

Transportasi

Bali tidak memiliki jaringan rel kereta api namun jaringan jalan yang sangat baik tersedia khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan. Sebagian besar penduduk memiliki kendaraan pribadi dan memilih menggunakannya karena moda transportasi umum tidak tersedia dengan baik, kecuali taksi.

Jenis kendaraan umum di Bali antara lain

  • Dokar, kendaraan dengan menggunakan kuda sebagai penarik
  • Ojek, taksi sepeda motor
  • Bemo, melayani dalam dan antarkota
  • Taksi
  • Bus, melayani hubungan antarkota, pedesaan, dan antarprovinsi.

Bali terhubung dengan Pulau Jawa dengan layanan kapal feri yang menghubungkan Pelabuhan Gilimanuk dengan Pelabuhan Ketapang di Kabupaten Banyuwangi, yang lama tempuhnya sekitar 30 hingga 45 menit. Penyeberangan ke Pulau Lombok melalui Pelabuhan Padang Bay menuju Pelabuhan Lembar, yang memakan waktu sekitar empat jam.

Transportasi udara dilayani oleh Bandara Internasional Ngurah Rai, dengan destinasi ke sejumlah kota besar di Indonesia, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, serta Jepang. Landas pacu dan pesawat terbang yang datang dan pergi bisa terlihat dengan jelas dari pantai.

Pemerintahan

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bf/Bali_Labeled.png/225px-Bali_Labeled.png

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Peta topografi Pulau Bali

Daftar kabupaten dan kota di Bali

No.

Kabupaten/Kota

Ibu kota

1

Kabupaten Badung

Badung

2

Kabupaten Bangli

Bangli

3

Kabupaten Buleleng

Singaraja

4

Kabupaten Gianyar

Gianyar

5

Kabupaten Jembrana

Negara

6

Kabupaten Karangasem

Karangasem

7

Kabupaten Klungkung

Klungkung

8

Kabupaten Tabanan

Tabanan

9

Kota Denpasar

-

Daftar gubernur

No

Foto

Nama

Mulai Jabatan

Akhir Jabatan

Keterangan

1

Anak agung bagus sutedja.gif

Anak Agung Bagus Sutedja

1950

1958

2

I Gusti Bagus Oka

1958

1959

3

Anak agung bagus sutedja.gif

Anak Agung Bagus Sutedja

1959

1965

4

I Gusti Putu Martha

1965

1967

5

Soekarmen

1967

1978

6

Ida Bagus Mantra.jpg

Prof. Dr. Ida Bagus Mantra

1978

1988

7

Ib oka.gif

Prof. Dr. Ida Bagus Oka

1988

1993

8

Dewa beratha.jpg

Drs. Dewa Made Beratha

1998

2008

9

I Made Mangku Pastika (sebagai Gubernur  Bali).jpg

I Made Mangku Pastika

2008

2013

Perwakilan

Empat anggota DPD (2004-2009) dari Provinsi Bali adalah I Wayan Sudirta, S.H., Nyoman Rudana, Drs. Ida Bagus Gede Agastia, dan Dra. Ida Ayu Agung Mas.

Berdasarkan hasil Pemilu Legislatif 2009, Bali mengirimkan sembilan anggota DPR ke Senayan dengan komposisi empat wakil dari PDI-P, masing-masing dua dari Partai Golkar dan Partai Demokrat, serta satu orang dari Partai Gerindra.

Pada tingkat provinsi, DPRD Bali dengan 55 kursi tersedia dikuasai oleh PDI-P dengan 24 kursi, menurun dari periode sebelumnya (2004-2009), disusul Partai Golkar dengan dua belas kursi.[6]

Partai

Kursi

%

PDI-P

24

-

Partai Golkar

12

-

Partai Demokrat

10

-

Partai Gerindra

2

-

PNBK

2

-

PKPB

1

-

PKPI

1

-

Partai Hanura

1

-

Pakar Pangan

1

-

PNI Marhaenisme

1

-

Total

55

100,0

Empat orang anggota adalah perempuan.

Budaya

Musik

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/87/Gamelan_of_Bali_200507-1.jpg/175px-Gamelan_of_Bali_200507-1.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Seperangkat gamelan Bali.

Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya Gamelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan Gambang, Gamelan Selunding, dan Gamelan Semar Pegulingan. Adapula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben, serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.

Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda, serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong, dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.

Tari

Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung, dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.[7]

Pakar seni tari Bali I Made Bandem[8] pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari modern lainnya.

Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/5/5b/Jan30244.jpg/175px-Jan30244.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Penari belia sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh Suasthi Bandem.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/25/Kecak_Dance_1.jpg/175px-Kecak_Dance_1.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Pertunjukan Tari Kecak.

Tarian wali

Tarian bebali

Tarian balih-balihan

Pakaian daerah

Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.

Pria

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/45/Ubud-Kids.jpg/175px-Ubud-Kids.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Anak-anak Ubud mengenakan udeng, kemeja putih dan kain.

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

  • Udeng (ikat kepala)
  • Kain kampuh
  • Umpal (selendang pengikat)
  • Kain wastra (kemben)
  • Sabuk
  • Keris
  • Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan baju kemeja, jas, dan alas kaki sebagai pelengkap.

Wanita

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ea/Bali.jpg/175px-Bali.jpg

http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png

Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

  • Gelung (sanggul)
  • Sesenteng (kemben songket)
  • Kain wastra
  • Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
  • Selendang songket bahu ke bawah
  • Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
  • Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

Makanan

Makanan utama

Jajanan

Senjata

Rumah Adat

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya,bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

Pahlawan

Catatan kaki

  1. ^ http://bps.bali.go.id/ Jumlah Penduduk Provinsi Bali tahun 2008 versi BPS Provinsi Bali dengan menjumlahkan populasi tiap-tiap kabupaten/kota
  2. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2004.
  3. ^ Taylor (2003), hlm. 5, 7; Hinzler (1995)
  4. ^ Taylor (2003), hlm. 12; Lonely Planet (1999), hlm. 15.
  5. ^ 'Bali', in Robert Cribb, ed., The Indonesian killings of 1965-1966: studies from Java and Bali (Clayton, Vic.: Monash University Centre of Southeast Asian Studies, Monash Papers on Southeast Asia no 21, 1990), pp. 241-248
  6. ^ DPRD Bali Didominasi Legislator Baru. VivaNews Edisi 18-05-2009.
  7. ^ Pengkatagorian oleh Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Bali, tahun 1971. Artikel oleh Tisna, I Gusti Raka Panji, Sekilas Tentang Dinamika Seni Pertunjukan Tradisional Bali dalam Konteks Pariwisata Budaya, dalam situs Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Copyright © 2006.
  8. ^ Bandem, I Made, Frederik Eugene deBoer. Balinese Dance in Transition Kaja and Kelod. 2nd ed. Oxford University Press, USA. 1995. ISBN-13: 978-967-65-3071-4

Referensi

  • Miguel Covarrubias, Island of Bali, 1946. ISBN 962-593-060-4
  • Foley, Kathy; Sedana, I Nyoman (Autumn 2005), "Mask Dance from the Perspective of a Master Artist: I Ketut Kodi on "Topeng"", Asian Theatre Journal (University of Hawai'i Press) 22 (2)
  • Friend, T. (2003). Indonesian Destinies. Harvard University Press. ISBN 0-674-01137-6.
  • Gold, Lisa (2005). Music in Bali: Experiencing Music, Expressing Culture. New York: Oxford University Press. ISBN 0-19-514149-0.
  • Greenway, Paul; Lyon, James. Wheeler, Tony (22 April 1999). Bali and Lombok. Melbourne: Lonely Planet. ISBN 0-86442-606-2.
  • Herbst, Edward (1997). Voices in Bali: Energes and Perceptions in Vocal Music and Dance Theater. Hanover: University Press of New England. ISBN 0-8195-6316-1.
  • Hinzler, Heidi (1995) Artifacts and Early Foreign Influences. From Oey, Eric (Editor) (22 April 1995). Bali. Singapore: Periplus Editions. hal. 24–25. ISBN 962-593-028-0.
  • Ricklefs, M. C. (1993). A History of Modern Indonesia Since C. 1300, Second Edition. MacMillan. ISBN 978-0333576892.
  • Sanger, Annette (1988), ditulis di Berlin, "Blessing or Blight? The Effects of Touristic Dance-Drama on village Life in Singapadu, Bali", Come Mek Me Hol' Yu Han': The Impact of Tourism on Traditional Music (Jamaica Memory Bank)
  • Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press. ISBN 0-300-10518-5.
  • Vickers, Adrian (1995), From Oey, Eric (Editor) (22 April 1995). Bali. Singapore: Periplus Editions. hal. 26–35. ISBN 962-593-028-0.
  • Pringle, Robert (2004). Bali: Indonesia's Hindu Realm; A short history of. Short History of Asia Series. Allen & Unwin. ISBN 1-86508-863-3.
  • http://id.wikipedia.org

Senin, 29 Maret 2010

application letters

Jln raja wali

Blok IV no 19

Jakarta 13345

Sept.19 2010

Mr john terry

PT muhara abadi

Jln casanova no 07

Jakarta 15002

Dear mr jhon terry

I would like to apply for the post of marketing manager that advertited todays kompas as you can see in my curriculum vitae my education and work experience as marketing manager have teach me as a exacellent marketing manager

I enclose my curriculum vitae and would be glaas to meet your for interview and day after 19 september

I look forword to hearing from you.

Your faith fully

( rizki febri ardian )

CURRICULUM VITAE

RIZKI FEBRI ARDIAN

Date Of Birth : Sept 10, 1991.

Age : 19

Nationality : Indonesia

Home adress : Jln Grama Puri Cibitung No. 36 Bekasi

Monital Status : Duda

Education : Elementary School

SDN Wono sari

SMPN 1Tambun Selatan

MA AT-taqwa 01 Pusat

University Gunadarma

Activities : Teller in Bank

Wok experience : 11 mai 2009 12 november teller bank of BCA

Skills : Operate computer,accounting,management

Interest : Sport,futsall

Language : fluency in english and deutch


Personal Manager

30 March, 2010

Mr walter Samuel

Executive directur

PT . ASTRA DAIHASTSU MOTOR

Jln Jaya Motor Barat No.3

Sunter II Jakarta Utara 14330

Dear Mr Walter Samuel

Miss Miyaby Smith Has applied for the position of secretary to the president directur of this compony and has given your name as a reference.

We would be very grateful if could give us your opinion ofr her suitability for the position we have. We are parti-cularly intereted in appointing someone with secretarial background and some work experience with administrative skills.

Any information that you can give us will of cours be treated as strictly confidential.

Yours Sincenely,

Mr. Susi

Personal Manager

Selasa, 23 Maret 2010

ARTI SEBUAH KEHIDUPAN

Setiap manusia diberi kehidupan/diciptakan oleh tuhannya adalah untuk beribadah kepadanya. Pandangan arti sebuah kehidupan setiap manusia berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa kita hidup dengan cinta, ada yang berpandangan kita hidup untuk harta, dan ada pula yang berpandangan bahwa kita hidup untuk menikmati apa yang ada di dunia, dan sebuah arti kehidupan menurut Quran adalah sebuah tempat “kepura-puraan” atau “sandiwara”, “saling menyombongkan diri” dan “penipuan”. Eits, tunggu dulu. Ini penjabarannya:
1. Kepura-puraan maksudnya adalah bahwa hidup ini sebenarnya adalah kosong, tidak ada artinya bagi kita semua. Kita mencari harta dan menumpuknya sebanyak-banyaknya adalah sejatinya kosong. Kita mencari gelar dan jabatan setinggi-tingginya adalah sebenarnya kosong. Kita bernapas pun sebenarnya adalah kosong. Jadi, sebetulnya semuanya adalah kosong, kecuali Yang Maha Agung yang mempunyai kuasa bagi seluruh alam, tak terkecuali manusia.
2. Saling menyombongkan diri maksudnya kita hidup hanya dikejar oleh rasa ingin membanggakan diri sendiri. Punya sesuatu yang sedikit pun apabila dirasakan baik baginya cenderung ingin ditunjukkan kepada orang lain. Rasa kebanggaan terhadap diri sendiri (dan juga bisa membanggakan orang lain atau harta benda yang dimiliki) itu tidak dapat dipungkiri melekat pada diri semua manusia tanpa terkecuali.
3. Penipuan. Yang dimaksud penipuan di sini adalah, bahwa nikmat yang dirasakan di dunia adalah sebenarnya bukan nikmat yang langgeng, hanya nikmat semu dan sesaat. Namun itu dirasakan nikmat dan cenderung dengan senang hati dilakukan oleh manusia. Sedangkan nikmat yang sebenarnya adalah nikmat akhirat, yang di dunia adalah dirasakan bukan sebagai nikmat oleh manusia melainkan sebagai sebuah beban atau tuntutan. Sehingga, manusia cenderung untuk meninggalkannya.
Kehidupan di dunia ini hanyalah dapat dirasakan bukan sebagai ketiga hal di atas oleh orang yang benar-benar tidak memikirkan ketiga hal yang di atas, melainkan menyandarkan kesemuanya kepada TUHAN. Sedangkan untuk bisa melakukan itu, manusia harusnya mempunyai dua kunci hidup, yakni SADAR,SABAR, dan SYUKUR. Seiring bertambahnya umur kita akan semakin mempunyai banyak pengalaman, entah itu pengalaman yang buruk maupun pengalaman yang menyenangkan. Jadikanlah pengalaman itu sebagai guru dan ambilah hikmah dari pengalaman itu sebagai acuan diri kita agar kita dapat lebih baik lagi. Sekian penjabaran saya tentang arti sebuah kehidupan dan jika ada pendapat/penulisan yang salah harap dimaklumi karena manusia adalah tempat salah dan dosa.

ARTI SEBUAH KEHIDUPAN

NAMA : RIZKI FEBRI ARDIAN

NPM : 34209326

KELAS : 1DD03

ARTI SEBUAH KEHIDUPAN

Setiap manusia diberi kehidupan/diciptakan oleh tuhannya adalah untuk beribadah kepadanya. Pandangan arti sebuah kehidupan setiap manusia berbeda-beda. Ada yang berpandangan bahwa kita hidup dengan cinta, ada yang berpandangan kita hidup untuk harta, dan ada pula yang berpandangan bahwa kita hidup untuk menikmati apa yang ada di dunia, dan sebuah arti kehidupan menurut Quran adalah sebuah tempat “kepura-puraan” atau “sandiwara”, “saling menyombongkan diri” dan “penipuan”. Eits, tunggu dulu. Ini penjabarannya:

  1. Kepura-puraan maksudnya adalah bahwa hidup ini sebenarnya adalah kosong, tidak ada artinya bagi kita semua. Kita mencari harta dan menumpuknya sebanyak-banyaknya adalah sejatinya kosong. Kita mencari gelar dan jabatan setinggi-tingginya adalah sebenarnya kosong. Kita bernapas pun sebenarnya adalah kosong. Jadi, sebetulnya semuanya adalah kosong, kecuali Yang Maha Agung yang mempunyai kuasa bagi seluruh alam, tak terkecuali manusia.
  2. Saling menyombongkan diri maksudnya kita hidup hanya dikejar oleh rasa ingin membanggakan diri sendiri. Punya sesuatu yang sedikit pun apabila dirasakan baik baginya cenderung ingin ditunjukkan kepada orang lain. Rasa kebanggaan terhadap diri sendiri (dan juga bisa membanggakan orang lain atau harta benda yang dimiliki) itu tidak dapat dipungkiri melekat pada diri semua manusia tanpa terkecuali.
  3. Penipuan. Yang dimaksud penipuan di sini adalah, bahwa nikmat yang dirasakan di dunia adalah sebenarnya bukan nikmat yang langgeng, hanya nikmat semu dan sesaat. Namun itu dirasakan nikmat dan cenderung dengan senang hati dilakukan oleh manusia. Sedangkan nikmat yang sebenarnya adalah nikmat akhirat, yang di dunia adalah dirasakan bukan sebagai nikmat oleh manusia melainkan sebagai sebuah beban atau tuntutan. Sehingga, manusia cenderung untuk meninggalkannya.

Kehidupan di dunia ini hanyalah dapat dirasakan bukan sebagai ketiga hal di atas oleh orang yang benar-benar tidak memikirkan ketiga hal yang di atas, melainkan menyandarkan kesemuanya kepada TUHAN. Sedangkan untuk bisa melakukan itu, manusia harusnya mempunyai dua kunci hidup, yakni SADAR,SABAR, dan SYUKUR. Seiring bertambahnya umur kita akan semakin mempunyai banyak pengalaman, entah itu pengalaman yang buruk maupun pengalaman yang menyenangkan. Jadikanlah pengalaman itu sebagai guru dan ambilah hikmah dari pengalaman itu sebagai acuan diri kita agar kita dapat lebih baik lagi. Sekian penjabaran saya tentang arti sebuah kehidupan dan jika ada pendapat/penulisan yang salah harap dimaklumi karena manusia adalah tempat salah dan dosa.

Jumat, 19 Februari 2010

NASIONALISME

PENGERTIAN NASIONALISME

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Menurut Ernest Renan nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara.
Menurut Otto Bauar nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib.
Menurut Hans Kohn nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan kesadaran nasional inilahyang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional.
Menurut L. Stoddard nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa.

PERJALANAN PANJANG NASIONALISME

NASIONALISME adalah mantra para pemimpin Cina dewasa ini. Meski mereka selalu mengklaim diri sebagai orang komunis dan partainya masih bernama Partai Komunis Cina (PKC)..
Peristiwa Tiananmen 1989, disusul oleh sanksi Barat yang memutuskan segala pertalian dengan Cina sebagai bentuk protes terhadap penindasan atas para penuntut hak demokrasi justru dipakai oleh PKC untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme.
Sanksi itu digambarkan sebagai bentuk arogansi Barat dan cara untuk terus memperhinakan Cina sebagai negara 'kelas kambing'.
Setelah hubungan dengan Barat normal, nasionalisme digunakan untuk memupuk rasa kesadaran tinggi dan bangga sebagai orang Cina. Nasioalisme juga digunakan sebagai pendorong menjadikan Cina sebagai negara kuat yang mampu bersaing baik dalam bidang ekononi maupun militer dengan kekuatan lain di dunia.
Waktu untuk mengeksploitasi nasionalisme juga sangat tepat. Dengan reformasi ekonomi, masyarakat Cina tengah berubah cepat. Itu juga terjadi ketika hampir seluruh lapisan masyarakat sudah muak dengan sosialisme/ komunisme, dipaksakan oleh Mao Zedong untuk menciptakan manusia egaliter. Nasionalisme muncul kembali.
Nasionalisme di negeri itu sebenarnya telah berusia panjang. Pada awalnya, di negeri itu nasionalisme sama sekali tak dikenal. Sampai penghujung abad ke-19, orang Cina hanya setia kepada keluarga, klan, atau kampung halamannya. Oleh karena itulah, kata Bapak Revolusi Cina Sun Yat-sen mengatakan, rakyat Cina itu bagaikan pasir. Ia bersatu kalau digenggam tangan, dan begitu genggaman dilepas, ia akan terpencar lagi.
Para sejarawan mengatakan, sampai permulaan abad ke-20 di sana hanya ada nasionalisme kebudayaan, khususnya Konghucuisme yang sejak sekitar permulaan Masehi telah diakui sebagai ideologi negara. Karenanya, di Cina pernah ada dua dinasti penguasa asing, yakni Dinasti Yuan, dan Dinasti Qing (1644-1911). Mereka didukung rakyat lantaran menggunakan legitimasi ajaran Kong Hu Cu sebagai dasar untuk berkuasa. Kedua dinasti itu berkuasa tanpa dianggap sebagai penjajahan asing.
Adalah Sun Yat-sen juga yang berani mengatakan bahwa Dinasti Qing itu adalah penjajah. Jadi, rakyat Cina harus meruntuhkan penguasa asing itu dengan revolusi dan membentuk sebuah republik dengan didasarkan oleh nasionalisme. Berkat usaha yang tak kenal lelah, Sun berhasil menggalang semangat rakyat dan dengan Revolusi Xinghai (10 Oktober 1911) berhasil meontokkan Dinasti Qing dan membentuk Republik Cina (Zhonghua Minguo).
Namun, republik dan nasionalisme itu tak sempat berkuasa lama. Setelah kejatuhan Qing, Cina mengalami zaman kekacauan yang berlangsung hampir 40 tahun. Kaum nasionalis, kaum monarki, para warlord dan kemudian kaum komunis saling bertikai untuk menjadi penguasa tunggal di Cina.
Hasilnya, kaum komunis di bawah Mao menang, dan mendirikan Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1949. Kaum nasionalis terusir dan melanjutkan kekuasaan mereka di Taiwan. Tapi kekacauan dan kesengsaraan rakyat Cina belum berhenti.
Mao berkuasa bagaikan seorang kaisar. Dan uniknya, sebagai seorang yang mengaku dirinya komunis, dia sangat terobsesi oleh percobaan untuk menciptakan masyarakat dan manusia sosialis yang hanya mengenal egalitarianisme dan tak mementingkan diri. Sejak berdirinya RRC Mao melancarkan berbagai eksperimen berupa bermacam-macam kampanye massa.
Yang selalu menjadi korban dari rentetan kampanye itu tak lain dari orang-orang terpelajar dan mereka yang masuk ke dalam kategori intelektual. Begitu terobsesinya Mao oleh konsep sosialisme menurut tafsirannya sehingga ia melupakan pembangunan ekonomi ketika jumlah penduduk Cina membludak. Puncak dari segala kampanye itu adalah Revolusi Kebudayaan (1966-1976) yang sering disebut sebagai '10 tahun penuh kesengsaraan'.
Hanya setelah Mao tiada pada 1976 dan Deng Xiaoping memperkenalkan reformasi ekonomi, kehidupan rakyat mulai membaik. Namun akibatnya orang mulai acuh terhadap ideologi, khususnya komunisme/sosialisme. Dalam kekosongan inilah nasionalisme muncul kembali. Sukses pembangunan ekonomi dan militer, apalagi setelah RRC sukses sebagai penyelenggara Olimpiade 2008 telah menancapkan kembali nasionalisme di kalangan rakyat.
Dalam suasana seperti inilah PKC mengambil keuntungan. Nasionalisme digunakan sebagai alat legitimasi untuk menjadi penguasa tunggal. Bahkan dalam pidato HUT RRC tahun ini, Hu Jintao sedikit kebablasan dengan mengatakan nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Cina juga harus disebarluaskan di masyarakat etnik Cina di luar negeri yang notabene bukan lagi warganegara Cina.
Permainan ini ada juga bahayanya. Selama pembangunan ekonomi dan militer, serta kemampuan menghadapi tekanan luar (baca: Barat) masih dapat dipertahankan, rakyat akan mendukung rezim dengan gelora nasionalisme tinggi. Tapi, kalau kemampuan itu melemah atau lenyap, nasionalisme akan menjadi bumerang. Ia akan dijadikan alat rakyat untuk menumbangkan rezim.

NASIONALISME INDONESIA HARUS BERKEMBANG DALAM TAMAN SARI INTERNASIONALISME

Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono menegaskan, Pertahanan bukan sekedar Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), semata yang lebih penting bagi Departemen Pertahanan ditantang untuk menjawab Perrtahanan dan Bela Negara dimasa mendatang, karena pertahanan bukan hanya militer saja tapi juga non militer. Ini menjadi kewajiban Departemen Pertahanan untuk menyebarluaskan Pertahanan non militer dalam era nasionalisme baru atau taman sari Internasionalisme Pertahanan, bukan nasionalisme yang sempit. Nasionalisme Indonesia yang berkembang dalam taman sari Internasionalisme yang dinamakan Globalisasi.

Hal itu dikatakannya selaku pembicara pada Temu Dialog 60 Tahun Indonesia Merdeka menuju satu Abad di Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran Jakarta Selasa (16/8).

Menhan RI Juwono Sudarsono berkeinginan agar nilai-nilai, budaya, adat istiadat, lingkar-lingkar budaya serta pulau-pulau besar dan kecil di seluruh Indonesia akan menjadi Zamrud Khatulistiwa yang salah satunya akan menjadi Mozaik Indonesia yang bisa mencerminkan mozaik dalam suatu kaca warna-warni yang masing-masing mempunyai pancaran tersendiri didalam bingkai politik Indonesia yang satu.

Menhan RI berpendapat, bahwa kebhinekaan itu merupakan bagian dari bingkai-bingkai kesatuan Republik Indonesia, tapi bukan sekedar slogan NKRI tapi NKRI yan plus keadilan social. Tantangan kita kedapan adalah untuk mengisi kembali rasa kebersamaan yang diciptakan Bung karno melalui pidato-pidatonya.

Menurutnya, dengan sistem kepemimpinan yang makin terjangkau ke seluruh pulau-pulau terpencil kita bisa mengisi kembali rasa kebersamaan dengan menyambung sejarah dengan keadilan yang merata. Sejarah tidak boleh kita lupakan, tapi sejarah jangan menjadi perangkap hanya untuk meninjau masa lampau, sejarah kita pakai untuk mengisi nilai-nilai kebersamaan dari satu nasib sepenanggungan lahir satu kepribadian yang sama.

Temu Dialog yang berlangsung selama tiga hari tersebut diprakarsai oleh PT. Jakarta Internatinal Expo bekerjama dengan PT. Antheus Indonesia didukung oleh Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia dibagi bagi dalam empat session, meliputi session pertama membangun nasionalisme di era globalisasi, session kedua nasionalisme dan jati diri bangsa dimasa mendatang, session ketiga membangun semangat kebangsaan dan good Goovernance untuk memperkuat system pemerintahan dan session keempat konsepsi bela Negara pada system hankamrata sampai dengan 40 tahun mendatang

Demikian siaran berita Biro Hubungan Masyarakat Setjen Departemen Pertahanan RI.

NASIONALISME DI JAYAPURA

Jayapura, myRMnews. Dalam konteks Papua, nasionalisme bukan sekedar cium bendera, hafal Pancasila, ikut upacara dan seterusnya. Namun nasionalisme haruslah yang kontekstual.

"Nasionalisme adalah sekolah gratis, pelayanan kesehatan murah, lampu tidak padam, air bersih bagus, hutan terjaga, kesejahteran meningkat dan seterusnya," ungkap Sekjen Presidium Dewan Papua, Thaha Alhamid saat ditanya wartawan seusai menjadi pemateri dalam Dialog Publik KNPI Provinsi Papua yang digelar di Hotel Yasmin, Sabtu pekan lalu (19/1).

Hal penting lainnya, lanjut Thaha, keadilan sosial dan ekonomi harus diwujudkan, kemudian penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia, dan hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah birokrasi yang bersih dari korupsi.

"Jika korupsi jalan terus, maka sama saja dengan membunuh rakyat Papua, sebab rakyat akan semakin menderita. Oleh sebab itu, pemerintah harus konsisten dalam pemberantasan korupsi," ujarnya.

Menurutnya, adalah hal yang sangat lucu jika di usia enam tahun ini, otonomi khusus masih berkutat pada aspek simbolik dengan terus mempersoalkan nasionalis kontra a-nasionalis. "Meski Bintang Kejora naik, Papua belum tentu merdeka.

Yang mesti dikibarkan di tiang paling tinggi adalah untuk Papua Baru adalah bendera hak hidup, bendera kesejahteraan rakyat, bendera penghormatan Hak Asasi Manusia, serta bendera keadilan social dan keadilan ekonomi," pungkasnya.

Dikatakan, selama ini, orang sibuk bicara soal symbol atau masalah larangan Bintang Kejora dijadikan lambang daerah, padahal semestinya ada agenda-agenda penting untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang hingga saat ini masih diabaikan.

"Stop bicara soal lambang. Kita harus berani berhenti bicara symbol. Kita harus bicara hal yang substansial. Itu yang paling pokok," tandasnya.

Thaha menyatakan, Pemerintah boleh melarang Bintang Kejora untuk dijadikan simbol dengan Peraturan Pemerintah No. 77/2007, akan tetapi hal itu tidak boleh menyita perhatian untuk bicara hal yang penting dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

"Karena itu saya usul supaya DPRP, MRP, gubernur untuk berhenti bicara symbol. Sekarang bicaralah mengenai grand strategi mengenai pendidikan, kesehatan dan seterusnya. Mana grand desain pembangunan ekonomi," ucapnya.

Thaha berkeyakinan, ada atau tanpa bendera, perjuangan rakyat Papua untuk menyuarakan aspirasinya akan tetap jalan, selama pemerintah tetap menerapkan ketidakadilan social, ketidak adilan ekonomi, korupsi merajalela dan seterusnya.
Dikutp dari :
• http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=6911
• http://one.indoskripsi.com/node/10397
• http://www.rakyatmerdeka.co.id/nusantara/index.php?q=news&id=7426
• http://www.inilah.com/news/read/celah/2009/12/01/195652/perjalanan-panjang-nasionalisme/